Jumat, 16 Februari 2018

Pujian: S'mua Baik

Shalom. Temen/sdr/iku, tolong di klik link video lagu pujian Rohani berikut di fan page Miracle Sing Talent, di like dan dibagikan ya. Bagi saya pribadi, Tuhan Baik atas semua yang t'lah Dia perbuat atas hidup saya dan keluarga saya. Hal yang sama, saya percaya bahwa Dia pun baik bagi saudara/iku semua. Amin. Thanks🤠🙏. Ini link nya, silahkan diklik: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=399142440511906&id=171031959989623 Like dan share anda sangat berarti Jbu all

Jumat, 24 Maret 2017

Seharusnya Rumah terbakar, namun Tuhan lindungi!

Perlindungan Tuhan selalu berlaku atas orang-orang yang dikasihiNya. Sebenarnya ini kisahnya sudah lama yakni tahun 2016 yang lalu, namun telah menjadi salah satu kisah luar biasa yang tak pernah saya lupakan untuk saya ceritakan pada suatu waktu. Sebelum pindah di rumah baru yang kini menjadi kediaman saya dengan suami, sebelum menikah saya tinggal di sebuah kos dalam sebuah rumah yang ukurannya menurut saya sangat besar terdiri dari dua lantai, 12 kamar, pemiliknya adalah seorang Pensiunan TNI yang mana keluarga ini selain tinggal di rumah yang sama, juga menyediakan kamar buat kos. Tempat ini memang sangat aman, nyaman, terlebih pemiliknya tinggal disini , mereka baik dan bagi saya sendiri sudah menjadi seperti orangtua sendiri. Tinggal di tempat ini selama 4 tahun merupakan waktu yang tidak cukup sedikit untuk menjalani hari sampai akhirnya saya menikah dengan suami saya dan pindah di rumah baru yang Tuhan anugerahkam bagi kami. Suatu hari tepat di hari Minggu pada tahun 2016 bangun jam 8 pagi lalu mulai masak, bersih-bersih sebelum berangkat ke Gereja. Selain menu utama, terakhir saya masak ubi madu kukus. Sambil menunggu ubi tersebut matang, saya sambil mandi dan bersiap-siap ke Gereja. Tiba-tiba pagi itu langit menjadi hitam pekat, pertanda hujan mau turun. Menghindari hujan, akhirnya saya buru-buru berangkat dengan naik angkutan umum berharap bisa tiba di gereja sebelum hujan turun. Akhirnya saya telah berangkat, tanpa menyadari bahwa kompor yang sedang saya nyalakan untuk memasak ubi madu kukus saya tinggal dalam keadaan masih menyala. Saya baru tersadar setelah angkutan yang saya tumpangi sudah menempuh jarak sekitar 1 km dari tempat saya tinggal. Hujan akhirnya turun begitu deras. Mengingat kompor yang masih menyala, saya mulai panik, gelisah. Dalam hati berkata "pulang kembali ke rumah, untuk mematikan kompor, dan gak usah ke gereja lagi karena pasti sudah terlambat jika kembali ke rumah". Angkutan jalan terus, niat pulang saya urungkan, dan kembali bergumam dalam hati kepada Tuhan: "Tuhan, aku tetap mau ke gereja Tuhan, tolong kompornya Tuhan matikan sendiri entah dengan cara bagaimana Tuhan melakukannya ". Keputusan saya sudah bulat, saya tetap ke gereja meski sebenarnya kompor dalam keadaan menyala bisa beresiko besar, jika meledak bisa menimbulkan kebakaran rumah. Prosesi ibadah membutuhkan sekitar 2,5 jam hingga saya nantinya kembali ke rumah. Pertanyaannya, apakah kompor gas tersebut bisa tidak meledak hingga saya pulang dalam waktu 2,5 jam ke depan???? Itu mustahil..namun entah kenapa saya tetap kekeh memilih ibadah dan mengabaikam kompor yang masih menyala. Sudah hampir 2 jam, ibadah selesai dan saya berhasil ikut ibadah tersebut sampai selesai. Dengan buru-buru saya kembali pulang tanpa mampir ke tempat lain seperti mol,biasa cuci mata dulu. Di tengah perjalanan pulang, pikiran saya mulai panik dan membayangkan jika saya tiba, rumah itu pasti sudah hangus alias terbakar. Lalu jika sudah terbakar, pemilik rumah pasti marah. Namun dalam situasi gelisah itu, tak terasa angkutan yang saya tumpangi sudah hampir dekat dengan tempat saya tinggal, dari jauh saya mengamati ternyata rumah tersebut masih ada dan tidak terjadi apa-apa. Huh...lega dengan menghela nafas dalam-dalam. Keluar angkutan saya berlari naik ke lantai 2 dan langsung mengecek kondisi kompor. Puji Tuhan, kompor masih hidup namun bagian bawah kukusan sudah terbakar dan air di dalamnya sudah kering serta Ubi Madunya telah berubah jadi arang. Dengan penuh keberanian, saya putar power kompor agar kembali ke posisi normal. Setelah itu saya pun tersungkur dengan gemetar saya bener-benar berdoa dan berterimakasih pada Tuhan. Ini adalah kisah kesekian dimana Tuhan menyatakan perlindungannNya. Saya mengakui bahwa sesungguhnya ini adalah kelalaian saya, dan berharap tidak terulang lagi. Dari semuanya itu, aku sangat berterimakasih pada Tuhan berkenan mendengar aduan gentingku di hari itu. Kompormnya memang tidak Tuhan matikan, namun karena Tuhan semua baik-baik saja. Hebat kan Tuhan??Mengikuti Tuhan itu penuh dengan warna dan pengalaman rohani. Kiranya Menjadi berkat! Sumber: Iberia Gea Penulis:Iberia Gea

Selasa, 31 Januari 2017

Jangan korbankan yang berharga demi sesuatu yang murahan

Jangan mengorbankan harga diri demi sesuatu yang murahan dan tidak bernilai sebanding dengan kehormatan diri sendiri yang telah Tuhan berikan.Terlebih jangan tukar dan menjual iman demi sesuatu hal di dunia ini. Imanmu kepada Yesus Kristus yang menebus hidupmu dari dosa jauh lebih berharga nilainya dibanding apa pun. Hidup ini sangatlah memerlukan kerja keras, pantang menyerah dan bukan menyerah pada nasib. Jangan membangun sikap asal selamat sebentar, lalu memilih cara yang tidak bijaksana, salah dan fatal. Bersyukur untuk Firman Tuhan yang selalu menerangi dan mengajar. Tak hanya agar kita semakin memahami kehendak Tuhan namun untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang bermartabat dan berharga. Silahkan baca kisan ESAU &YAKUB berikut ini: Nats:Kejadian 25:29-34 Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. Kata Esau kepada Yakub: "Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah." Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom. Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu." Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?" Kata Yakub: "Bersumpahlah dahulu kepadaku." Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya. Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

Jumat, 27 Januari 2017

Semua Karena Tuhan

Pacaran selama 2 (dua) tahun dengan laki-laki yang kini menjadi suami saya. Masih sangat ingat, tanggal aku menyatakan menerima dia sebagai pacar yakni 25 Januari 2015 dan bukan main-main dengan keyakinan bahwa dialah yang kelak menjadi suami saya. Tak terasa 2 (dua) tahun kemudian yaitu Sabtu 26 November 2016 kami melangsungkan pernikahan, diberkati di gereja GBI jemaat Betha Gading Serpong yang dilayani oleh Pdt. Timotius Tirsan, M.Th juga sekaligus dengan acara resepsi di Aula Gedung KNPI kota Tangerang. Dihadiri oleh orang tua kedua belah pihak dan keluarga besar kami serta jemaat dan seluruh kerabat. Ini adalah peristiwa hebat yang Tuhan izinkan kami alami. Kenapa demikian? Semua hal Tuhan bantu, karna sesungguhnya kami persiapkan semua nya dengan sendiri. Tuhan izinkan kami alami masa-masa dimana kami harus mengandalkan Tuhan. Puji Tuhan kami kini menjadi suami istri yang telah diberkati. Saya tahu bahwa membangun rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Banyak mendengar cerita dari mereka yang pernah mengalaminya. Namun aku bersyukur bahwa aku memiliki suami yang mau belajar melayani Tuhan. Tuhan lebih mengasahku dengan hadirnya suamiku dalam hidupku. Kebersamaan dan saling melengkapi menjadi salah satu yang harus kami pupuk bersama. Setelah menikah aku bahagia. Aku dan suamiku selalu tekun untuk membangun mezbah doa pagi dan malam. Suamiku berlatar belakang sekuler, sedangkan aku berlatar belatar belakang Teologi yang berkecimpung dalam dunia pelayanan. Namun aku bersyukur suamiku semakin bertumbuh dan membuka diri untuk melakukan hal-hal yang tak biasa dilakukan seperti turut berdoa dan baca firman Tuhan bersama. Aku juga bersyukur yang mana sejak pacaran dengan suami 2 (dua) tahun yang lalu, suamiku yang dulu seorang perokok kini sudah berhenti total. Ini anugerah yang luar biasa bagi kami. Tuhan memiliki cara untuk memperbaharui setiap pribadi, namun orang terdekat juga memiliki peran agar mereka semakin sportif menjadikan diri semakin lebih baik. Aku selalu menyampaikan kepada suami bahwa hal yang utama dalam hidup ini adalah takut Tuhan. Sumber segala kebaikan adalah Tuhan karena itu kita harus mengutamakanNya dalam hidup kita, melalui mezbah dan gaya hidup kita harus berpadanan pada kehendak dan FirmanNya. Harapan ku dan doaku : Keluargaku melayani Tuhan dan mempermuliakan Tuhan dengan dasar takut akan Tuhan. Jika kita mampu berdiri dan bertahan hingga saat ini, semua karena Tuhan. Penulis: Iberia Gea

Selasa, 05 Mei 2015

KELOLALAH KEUANGANMU DENGAN BIJAK

Meningkatnya biaya kebutuhan manusia dari tahun ketahun menjadai salah satu penyebab manusia harus berusaha keras mencari uang untuk menutypi kebutuhan tersebut. Perlu diketahi bahwa tak sedikit orang dalam usahanya memenuhi kebutuhannya justru terjebak dengan utang. Dalam memenuhi kebutuhan mendesak seseorang justru sering melakukan kesalahan dalam mengolah keuangan yang ada. Di situasi ini kita sering menjebak diri oleh karena kita tidak bijak dalam mengelola apa yang ada pada kita termasuk uang. Saya sangat setuju dengan sebuah artikel di bawah ini yang dapat menegur dan mengingatkan kita bagaan seharusnya menjadi orang bahagia tanpa utang. "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dmari yang menghutangi." Lihatlah sebuah kisah nyata yang di alami oleh salah satu keluarga dekat saya. Ia sudah memiliki pekerjaan yang sangat baik sebagai seorang fotografer. Lalu pada suatu hari ada seseorang yang menawarkannya untuk membuka warnet. Ia tertarik dan segera berusaha meminjam uang dari saudaranya. Saudaranya pun menyanggupi dan berjanji untuk meminjam uang dari kantornya untuk dipinjamkan kembali kepada sang adik. Entah apa yang ada di pikiran si adik, mungkin tidak sabar, ia melakukan hal yang ceroboh dengan meminjam terlebih dahulu kepada rentenir. Toh uang pinjaman dari abangnya akan ia dapat segera, begitu mungkin pikirnya. Sekian puluh juta pun ia pinjam, dengan bunga yang hampir mencapai 50%, dan langsung ia pakai untuk merenovasi tempat. Apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar perkiraannya. Si abang tiba-tiba membatalkan bantuannya, karena menurutnya ia gagal mendapatkan pinjaman dari kantor. Sementara uang dari rentenir sudah terlanjur dipakai. Akibatnya ia pun kelabakan, terpaksa menjual kamera dan segala miliknya untuk menutupi uang pinjaman dari rentenir, itu pun cuma sanggup untuk melunasi sebagian bunga saja. Hingga hari ini ia masih terlilit masalah hutang ini. Sungguh tragis, ketika ia tadinya memiliki pekerjaan yang sukses, namun karena terburu-buru mengambil keputusan dalam berhutang maka dalam sekejap hidupnya menjadi kacau. Hutang, apakah itu dosa atau tidak? Sejauh yang saya tahu, tidak ada ayat yang secara tegas mengatakan bahwa berhutang itu adalah dosa. Yesus sendiri pada suatu ketika pernah menasihati kita "Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu." (Matius 5:42). Kita diminta untuk memberi, dan jangan menghindar apabila ada orang yang butuh pertolongan kita. Dan memang ada kalanya dalam keadaan tertentu kita butuh meminjam sejumlah uang baik dari kerabat maupun bank dan sebagainya. Namun ketika kita tidak membayar hutang itu kembali, maka itu sudah merupakan dosa. Pemazmur mengatakan "Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah." (Mazmur 37:21). Hutang yang tidak dibayar bukanlah sesuatu yang baik di mata Tuhan. Tidak main-main sehingga orang yang tidak membayar hutang pun dikatakan sebagai orang fasik. Apakah dengan sengaja melarikan diri dari hutang atau tidak, itu tetaplah merupakan pelanggaran di mata Tuhan. Berhati-hatilah terhadap jerat hutang, karena dari sana ada banyak bahaya yang bisa menjerumuskan kita ke dalam permasalahan. Agar tidak terjebak seperti ini, perencanaan yang matang dari segi keuangan tentu sangat dibutuhkan. Kita harus memastikan terlebih dahulu apakah kita mampu membayarnya kembali atau tidak. Jangan ambil resiko apalagi nekat, karena ada banyak bahaya mengintip di balik sebuah hutang. Ada banyak kejahatan yang bisa timbul sebagai akibat dari berhutang. Kita sering mendengar orang terpaksa mencuri bahkan membunuh karena terlilit hutang, saudara dan teman dekat bisa berubah menjkadi musuh, hubungan kekerabatan menjadi hancur dan sebagainya. Depresi dan ketakutan dikejar-kejar debt collector, hidup sembunyi dan melarikan diri dari orang lain terus menerus, itupun bisa menjadi masalah besar yang timbul akibat berhutang. Tidak lagi ada sukacita, damai dan kebahagiaan, yang ada hanyalah ketakutan. Ada banyak dosa dan masalah yang siap menjerat kita jika kita tidak hati-hati dalam melakukan pinjaman. Tuhan tidaklah merancang kita untuk menjadi orang-orang yang berhutang. Rencana Tuhan kepada kita seperti apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 5:42 di atas adalah meminjamkan uang, bukan meminjam uang. Lalu lihatlah apa yang dijanjikan Tuhan dalam janji berkatNya seperti yang tertulis dalam Ulangan 28:1-14. "TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman." (Ulangan 28:12). Berkat Tuhan seharusnya lebih dari cukup untuk kita, sehingga kita tidak perlu lagi meminjam, bahkan dari berkat-berkat Tuhan itu seharusnya mampu pula dipakai untuk membantu orang lain. Itu seharusnya yang diinginkan Tuhan bagi kita, dan bukan sebaliknya, menjadi orang yang selalu terlilit hutang dimana-mana. Dan janji berkat Tuhan ini akan hadir pada kita apabila kita melakukan hal berikut. "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu." (ay 1-2). Apakah berhutang itu dosa atau tidak, mungkin kita punya pendapat masing-masing mengenai hal ini. Dan saya tidak mau berdebat mengenai hal itu. Namun ingatlah bahwa ada banyak dosa yang mengintip dari berhutang, dan ini jelas sesuatu yang berbahaya bagi kita.  Satu hal yang jelas, kita akan menjadi budak dari yang menghutangi, seperti yang sudah diingatkan oleh Salomo. "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi." (Amsal 22:7). Kita tidak pernah dirancang Tuhan untuk menjadi budak siapapun. Kita merupakan anak-anakNya yang Dia ciptakan secara istimewa, dan posisi kita di mata Tuhan pun sungguh istimewa pula. Menjadi budak terhutang, tentu itu tidak pernah masuk dalam rencana Tuhan bagi kita. Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap potensi hutang. Mungkin kita tidak meminjam uang dan berhutang kepada siapa-siapa secara langsung, tetapi sudahkah kita berhati-hati terhadap bentuk-bentuk yang lain, seperti credit card misalnya? Saya sendiri hingga hari ini memilih untuk tidak mempergunakan credit card apapun karena saya tidak mau terjebak pada masalah hutang menghutang ini. Tuhan sanggup memberikan berkatNya berkelimpahan kepada kita, dan itu sudah saya alami sendiri. Sebuah rumah indah saat ini hadir tanpa harus melakukan pinjaman KPR, atau pinjaman lain sama sekali, padahal uang tabungan saya hanya cukup membayar seperempatnya saja. Tapi Tuhan sanggup melakukan itu, sehingga saya tidaklah perlu meminjam apa-apa. Itulah luar biasa dan ajaibnya Tuhan yang selalu memegang janjiNya. Tuhan sudah berjanji untuk memelihara hidup kita, karena itu berpeganglah teguh kepadaNya dan jangan tergiur oleh iming-iming yang akan menjadikan kita sebagai budak hutang. Apa yang dialami oleh salah seorang keluarga dekat saya di atas hendaknya bisa menjadi sebuah peringatan bagi kita agar tetap waspada terhadap jebakan hutang ini. Cukupkan diri dengan apa yang ada. Ada perbedaan nyata antara kebutuhan dan keinginan, dan aturlah segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita. Sedapat mungkin, hindarilah berhutang, dan jangan terjebak berbagai tawaran kartu kredit dan lain-lain apabila kita memang tidak membutuhkannya. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, dan Dia siap memberikan itu tanpa kita harus terjebak dalam persoalan hutang ini. Disiplin dalam hal keuangan mutlak diperlukan agar kita tidak terjatuh pada jebakan hutang http://temukan-caranya.blogspot.com/2010/06/renungan-harian-online-jebakan-hutang.html?m=1