Jumat, 24 Maret 2017

Seharusnya Rumah terbakar, namun Tuhan lindungi!

Perlindungan Tuhan selalu berlaku atas orang-orang yang dikasihiNya. Sebenarnya ini kisahnya sudah lama yakni tahun 2016 yang lalu, namun telah menjadi salah satu kisah luar biasa yang tak pernah saya lupakan untuk saya ceritakan pada suatu waktu. Sebelum pindah di rumah baru yang kini menjadi kediaman saya dengan suami, sebelum menikah saya tinggal di sebuah kos dalam sebuah rumah yang ukurannya menurut saya sangat besar terdiri dari dua lantai, 12 kamar, pemiliknya adalah seorang Pensiunan TNI yang mana keluarga ini selain tinggal di rumah yang sama, juga menyediakan kamar buat kos. Tempat ini memang sangat aman, nyaman, terlebih pemiliknya tinggal disini , mereka baik dan bagi saya sendiri sudah menjadi seperti orangtua sendiri. Tinggal di tempat ini selama 4 tahun merupakan waktu yang tidak cukup sedikit untuk menjalani hari sampai akhirnya saya menikah dengan suami saya dan pindah di rumah baru yang Tuhan anugerahkam bagi kami. Suatu hari tepat di hari Minggu pada tahun 2016 bangun jam 8 pagi lalu mulai masak, bersih-bersih sebelum berangkat ke Gereja. Selain menu utama, terakhir saya masak ubi madu kukus. Sambil menunggu ubi tersebut matang, saya sambil mandi dan bersiap-siap ke Gereja. Tiba-tiba pagi itu langit menjadi hitam pekat, pertanda hujan mau turun. Menghindari hujan, akhirnya saya buru-buru berangkat dengan naik angkutan umum berharap bisa tiba di gereja sebelum hujan turun. Akhirnya saya telah berangkat, tanpa menyadari bahwa kompor yang sedang saya nyalakan untuk memasak ubi madu kukus saya tinggal dalam keadaan masih menyala. Saya baru tersadar setelah angkutan yang saya tumpangi sudah menempuh jarak sekitar 1 km dari tempat saya tinggal. Hujan akhirnya turun begitu deras. Mengingat kompor yang masih menyala, saya mulai panik, gelisah. Dalam hati berkata "pulang kembali ke rumah, untuk mematikan kompor, dan gak usah ke gereja lagi karena pasti sudah terlambat jika kembali ke rumah". Angkutan jalan terus, niat pulang saya urungkan, dan kembali bergumam dalam hati kepada Tuhan: "Tuhan, aku tetap mau ke gereja Tuhan, tolong kompornya Tuhan matikan sendiri entah dengan cara bagaimana Tuhan melakukannya ". Keputusan saya sudah bulat, saya tetap ke gereja meski sebenarnya kompor dalam keadaan menyala bisa beresiko besar, jika meledak bisa menimbulkan kebakaran rumah. Prosesi ibadah membutuhkan sekitar 2,5 jam hingga saya nantinya kembali ke rumah. Pertanyaannya, apakah kompor gas tersebut bisa tidak meledak hingga saya pulang dalam waktu 2,5 jam ke depan???? Itu mustahil..namun entah kenapa saya tetap kekeh memilih ibadah dan mengabaikam kompor yang masih menyala. Sudah hampir 2 jam, ibadah selesai dan saya berhasil ikut ibadah tersebut sampai selesai. Dengan buru-buru saya kembali pulang tanpa mampir ke tempat lain seperti mol,biasa cuci mata dulu. Di tengah perjalanan pulang, pikiran saya mulai panik dan membayangkan jika saya tiba, rumah itu pasti sudah hangus alias terbakar. Lalu jika sudah terbakar, pemilik rumah pasti marah. Namun dalam situasi gelisah itu, tak terasa angkutan yang saya tumpangi sudah hampir dekat dengan tempat saya tinggal, dari jauh saya mengamati ternyata rumah tersebut masih ada dan tidak terjadi apa-apa. Huh...lega dengan menghela nafas dalam-dalam. Keluar angkutan saya berlari naik ke lantai 2 dan langsung mengecek kondisi kompor. Puji Tuhan, kompor masih hidup namun bagian bawah kukusan sudah terbakar dan air di dalamnya sudah kering serta Ubi Madunya telah berubah jadi arang. Dengan penuh keberanian, saya putar power kompor agar kembali ke posisi normal. Setelah itu saya pun tersungkur dengan gemetar saya bener-benar berdoa dan berterimakasih pada Tuhan. Ini adalah kisah kesekian dimana Tuhan menyatakan perlindungannNya. Saya mengakui bahwa sesungguhnya ini adalah kelalaian saya, dan berharap tidak terulang lagi. Dari semuanya itu, aku sangat berterimakasih pada Tuhan berkenan mendengar aduan gentingku di hari itu. Kompormnya memang tidak Tuhan matikan, namun karena Tuhan semua baik-baik saja. Hebat kan Tuhan??Mengikuti Tuhan itu penuh dengan warna dan pengalaman rohani. Kiranya Menjadi berkat! Sumber: Iberia Gea Penulis:Iberia Gea